Terkadang kita bertanya :
Siapakah Aku?
Bagaimana Aku?
Seperti apakah aku menjalani hidup dan memandang orang lain?
Pemikiran-pemikiran tersebut akan tercipta manakala seseorang belum bisa melihat apa adanya dirinya. dalam hal ini disebut konsep diri.
Konsep diri adalah
gagasan tentang diri sendiri yang mencangkup keyakinan, pandangan, dan
penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri. Konsep diri terdiri atas
bagaimana cara kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa
tentang diri sendiri, dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi
manusia sebagaimana yang kita harapkan.
1.
Dimensi-dimensi dalam Konsep Diri
a.
Dimensi Internal
Dimensi Internal
atau yang disebut juga kerangka acuan (internal frame of reference) adalah
penilaian yang dilakukan individu yakni penilaian yang dilakukan individu
terhadap dirinya sendiri berdasarkan dunia di dalam dirinya. Dimensi ini
terdiri dari tiga bentuk:
§ Diri identitas (identity sett)
Bagian diri ini merupakan aspek yang paling mendasar
pada konsep diri dan mengacu pada pertanyaan, "Siapakah saya?" Dalam
pertanyaan tersebut tercakup label-label dan simbol-simbol yang diberikan pada
diri (self) oleh individu-individu yang bersangkutan untuk menggambarkan
dirinya dan membangun identitasnya, misalnya "Saya x". Kemudian
dengan bertambahnya usia dan interaksi dengan lingkungannya, pengetahuan
individu tentang dirinya juga bertambah, sehingga ia dapat melengkapi
keterangan tentang dirinya dengan hal-hal yang lebih kompleks, seperti
"Saya pintar tetapi terlalu gemuk " dan sebagainya.
·
Diri Pelaku
(behavioral self)
Diri pelaku merupakan persepsi individu tentang
tingkah lakunya, yang berisikan segala kesadaran mengenai apa yang dilakukan
oleh diri. Selain itu bagian ini berkaitan erat dengan diri identitas. Diri
yang adekuat akan menunjukkan adanya keserasian antara diri identitas dengan
diri pelakunya, sehingga ia dapat mengenali dan menerima, baik diri sebagai
identitas maupun diri sebagai pelaku. Kaitan dari keduanya dapat dilihat pada
diri sebagai penilai.
·
Diri
Penerimaan/penilai (judging self)
Diri penilai berfungsi sebagai pengamat, penentu
standar, dan evaluator. Kedudukannya adalah sebagai perantara mediator) antara
diri identitas dan diri pelaku. Manusia cenderung memberikan penilaian terhadap
apa yang dipersepsikannya. Oleh karena itu, label-label yang dikenal pada
dirinya bukanlah semata-mata menggambarkan dirinya tetapi juga sarat dengan
nilai-nilai. Selanjutnya, penilaian ini lebih berperan dalam menentukan
tindakan yang akan ditampilkannya. Diri penilai menentukan kepuasan seseorang
akan dirinya atau seberapa jauh seseorang menerima dirinya.
Kepuasan diri yang rendah akan menimbulkan harga
diri (self esteem) yang rendah pula dan akan mengembangkan ketidakpercayaan
yang mendasar pada dirinya. Sebaliknya, bagi individu yang memiliki kepuasan
diri yang tinggi, kesadaran dirinya lebih realistis, sehingga lebih
memungkinkan individu yang bersangkutan untuk merupakan keadaan dirinya dan
memfokuskan energi serta perhatiannya ke luar diri, dan pada akhirnya dapat
berfungsi lebih konstruktif. Ketiga bagian internal ini mempunyai peranan yang
berbeda-beda, namun saling melengkapi dan berinteraksi membentuk suatu diri
yang utuh dan menyeluruh.
b.
Dimensi Eksternal
Pada dimensi eksternal, individu menilai dirinya
melalui hubungan dan aktivitas sosialnya, nilai-nilai yang dianutnya, serta
hal-hal lain di luar dirinya. Dimensi ini merupakan suatu hal yang luas,
misalnya diri yang berkaitan dengan sekolah, organisasi, agama, dan sebagainya.
Namun, dimensi yang dikemukakan oleh Williams Fitts adalah dimensi eksternal
yang bersifat umum bagi semua orang, dan dibedakan atas lima bentuk, yaitu:
·
Diri Fisik
(physical self)
Diri
fisik menyangkut persepsi seseorang terhadap keadaan dirinya secara fisik.
Dalam hal ini terlihat persepsi seseorang mengenai kesehatan dirinya,
penampilan dirinya (cantik, jelek, menarik, tidak menarik) dan keadaan tubuhnya
(tinggi, pendek, gemuk, kurus).
·
Diri etik-moral
(moral-ethical self)
Bagian ini
merupakan perspsi seseorang terhadap dirinya dilihat Dari standar pertimbangan
nilai moral dan etika. Maka ini menyangkut persepsi seseorang mengenai hubungan
dengan Tuhan, kepuasan seseorang akan kehidupan keagamaannya dan nilai-nilai
moral yang dipegangnya, yang muliputi batasan baik dan buruk.
·
Diri Pribadi
(personal self)
Diri pribadi
merupakan perasaan atau persepsi seseorang tentang keadaan pribadinya. Hal ini
tidak dipengaruhi oleh kondisi fisik atau hubungan dengan orang lain, tetapi
dipengaruhi oleh sejauhmana individu merasa puas terhadap pribadinya atau
sejauh mana ia merasa dirinya sebagai pribadi yang tepat.
·
Diri Keluarga
(family self)
Diri
keluarga menunjukkan perasaan dan harga diri seseorang dalam kedudukannya
sebagai anggota keluarga. Bagian ini menunjukkan seberapa jauh seseorang merasa
adekuat terhadap dirinya sebagai anggota keluarga, Serta terhadap peran maupun
fungsi yang dijalankannya sebagai anggota dari suatu keluarga.
·
Diri Sosial
(social self)
Bagian ini
merupakan penilaian individu terhadap interaksi dirinya dengan orang lain
maupun lingkungan di sekitarnya.
Pembentukan
penilaian individu terhadap bagian-bagian dirinya dalam dimensi eksternal ini
dapat dipengaruhi oleh penilaian dan interaksinya dengan orang lain. Seseorang
tidak dapat begitu saja menilai bahwa ia memiliki fisik yang baik tanpa adanya
reaksi dari orang lain yang memperlihatkan bahwa secara fisik ia memang
menarik.
Demikian Pula
seseorang tidak dapat mengatakan bahwa dirinya memiliki diri pribadi yang baik
tanpa adanya tanggapan atau reaksi orang lain di sekitarnya yang menunjukkan
bahwa dirinya memang memiliki pribadi yang baik.
2.
Aspek-aspek Konsep Diri
a. Aspek fisiologis
Aspek
fisiologis dalam diri berkaitan dengan unsur-unsur fisik, seperti warna kulit,
bentuk, berat atau tinggi badan, raut muka (tampan, cantik, sedang, atau
jelek), memiliki kondisi badan yang sehat, normal/cacat dan sebagainya.
Karakteristik fisik mempengaruhi bagaimana seseorang menilai diri sendiri;
demikian pula tak dipungkiri bahwa orang lain pun menilai seseorang diawali
dengan penilaian terhadap hal-hal yang bersifat fisiologis. Walaupun belum
tentu benarmasyarakat seringkali melakukan penilaian awal terhadap penampilan
fisik untuk dijadikan sebagai dasar respon perilaku seseorang terhadap orang
lain.
b. Aspek Psikologis
Aspek-aspek
psikologis (psychological aspect) meliputi tiga hal yaitu:
(1) kognisi
(kecerdasan, minat dan bakat, kreativitas, kemampuan konsentrasi), (2) afeksi
(ketahanan, ketekunan dan keuletan bekerja, motivasi berprestasi, toleransi
stress) maupun (3) konasi (kecepatan dan ketelitian kerja, coping stress,
resitiensi). Pemahaman dan penghayatan unsur-unsur aspek psikologis tersebut
akan mempengaruhi penilaian terhadap diri sendiri. Penilaian yang baik, akan
meningkatkan konsep diri yang positif (positive self-concept), sebaliknya penilaian yang buruk cenderung akan
mengembangkan konsep diri yang negatif (negative self concept).
c. Aspek
Psiko-sosiologis
Yang dimaksud
dengan aspek psiko-sosiologis (psych osocioloyico / aspect) ialah pemahaman
individu yang masih memiliki hubungan dengan lingkungan sosialnya. Aspek
psiko-sosiologis ini meliputi 3 (tiga) unsur yaitu: (1) orangtua saudara
kandung, dan kerabat dalam keluarga, (2) teman-teman pergaulan (peer-group) dan
kehidupan bertetangga, (3) lingkungan sekolah (guru, teman sekolah,
aturan-aturan sekolah). Oleh karena itu, seseorang yang menjalin hubungan
dengan lingkungan sosial dituntut untuk dapat memiliki kemampuan berinteraksi
sosial (social interaction), komunikasi, menyesuaikan diri (adjustment) dan
bekerja sama (cooperation) dengan mereka. Tuntutan sosial secara langsung
maupun tidak langsung mempengaruhi agar individu mentaati aturan-aturan sosial.
Individu pun juga berkepentingan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melalui lingkungan
sosialnya. Dengan demikian terjadi hubungan mutualisme antara individu dengan
iingkungan sosialnya.
d. Aspek Psikoetika dan
Moral
Aspek psikoetika
dan moral (moral aspect) yaitu suatu kemampuan memahami dan melakukan perbuatan
berdasarkan nilai-nilai etika dan moralitas. Setiap pemikiran, perasaan, dan
perilaku individu harus mengacu pada nilai-nilai kebaikan, keadilan, kebenaran,
dan kepantasan. Oleh karena itu, proses penghayatan dan pengamatan individu
terhadap nilai-nilai moral tersebut menjadi sangat penting, karena akan dapat
menopang keberhasilan seseorang dalam melakukan kegiatan penyesuaian diri
dengan orang lain.
|
Fisiologis
|
|
Psikologis
|
|
|
|
|
Konsep diri
|
Psiko‐etika dan moral
|
|
Psiko‐sosiologis
|
|
|
|
|
Gambar
1.
Skema
Konsep Diri
3.
Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri
a. Inteligensi
Inteligensi
mempengaruhi penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungannya, orang lain dan
dirinya sendiri. Semakin tinggi taraf intreligensinya semakin baik penyesuaian
dirinya dan lebih mampu bereaksi terhadap rangsangan lingkungan atau orang lain
dengan cara yang dapat diterima. Maka jelas akan meningkatkan konsep dirinya,
demikian pula sebaliknya.
b. Pendidikan
Seseorang yang
mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi akan meningkatkan prestasinyaa. Jika
prestasinya meningkat maka konsep dirinya akan berubah.
c. Status Sosial
Ekonomi
Status sosial seseorang
mempengaruhi bagaimana penerimaan orang lain terhadap dirinya. Penerimaan
lingkungan dapat mempengaruhi konsep diri seseorang. Penerimaan lingkungan
terhadap seseorang cenderung didasarkan pada status sosial ekonominya. Maka
dapat dikatakan individu yang status sosialnya tinggi akan mempunyai konsep
diri yang lebih positif dibandingkan individu yang status sosialnya rendah.
d. Hubungan Keluarga
Seseorang yang
mempunyai hubungan yang erat dengan seorang anggota keluarga akan
mengidentifikasikan diri dengan orang lain dan ingin mengembangkan pola
kepribadian yang sama. Bila tokoh ini sesama jenis, maka akan tergolong untuk
mengembangkan konsep diri yang layak untuk jenis seksnya.
e. Orang Lain
Kita mengenal
diri kita dengan mengenal orang lain terlebih dahulu. Bagaimana anda mengenal
diri saya, akan membentuk konsep diri saya. Sullivan (dalam Rakhmat,2005)
menjelaskan bahwa individu diterima orang lain, dihormati dan disenangi karena
keadaan dirinya, individu akan cenderung bersikap menghormati dan menerima
dirinya. Sebaliknya, bila orang lain selalu meremehkan dirinya, menyalahkan dan
menolaknya, ia akan cenderung tidak akan menyenangi dirinya.
Miyamoto dan
Dornbusch (dalam Rakhmat,2005) mencoba mengkorelasikan penilaian orang lain
terhadap dirinya sendiri dengan skala lima angka dari yang palin jelek sampai
yang paling baik. Yang dinilai adalah kecerdasan, kepercayaan diri, daya tarik fisik,
dan kesukaan orang lain terhadap dirinya. Dengan skala yang sama mereka juga
menilai orang lain. Ternyata, orang-orang yang dinilai baik oleh orang lain,
cenderung memberikan skor yang tinggi juga dalam menilai dirinya. Artinya,
harga diri sesuai dengan penilaian orang lain terhadap dirinya.
4.
Jenis-jenis Konsep Diri
Konsep diri menurut James F Calhoun dan Joan Ross
Acocella (1995: 72-74) jenisnya ada 2 yaitu konsep diri negatif dan konsep diri
positif.
Konsep
diri negative. Muncul karena pandangan seseorang tentang dirinya sendiri
benar-benar tidak teratur. Dia tidak tahu apa kekuatan dan kelemahannya/ apa
yang dia hargai dalam hidupnya dan juga konsep diri yang terlalu teratur dengan
kata lain kaku. Hal ini terjadi mungkin karena di didik dengan sangat keras
sehingga individu tersebut menciptakan citra diri yang tidak mengijinkan adanya
penyimpangan dari hukum yang keras dan kaku yang dalam pikirannya merupakan
cara hidup yang tepat. Dalam kaitannya dengan penilaian diri, konsep diri yang
negatif merupakan penilaian negatif terhadap diri sendiri. Apapun yang
diperoleh tampaknya tidak berharga dibandingkan dengan apa yang diperoleh orang
lain. Jadi ciri konsep diri yang negatif adalah pengetahuan yang tidak tepat
tentang diri sendiri, harapan yang tidak realistis dan harga diri yang rendah.
Ciri orang yang memiliki konsep diri negatif adalah:
·
Individu mudah
untuk marah dan naik pitam serta tahan terhadap kritikan yang diterimanya.
·
Individu
responsif sekali terhadap pujian yang diberikan oleh orang lain pada dirinya.
·
Individu tidak
pandai dan tidak sanggup untuk mengungkapkan penghargaan/ pengakuan kelebihan
yang dimiliki oleh orang lain.
·
Individu
cenderung merasa tidak disenangi olah orang lain.
·
Individu
bersikap pesimis terhadap kompetisi, keengganannya untuk bersaing dengan orang
lain dalam membuat prestasi (Jalaludin Rahmat, 1996: 105).
Konsep diri positif. Orang dengan konsep
diri positif dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang sangat
bermacam-macam tentang dirinya sendiri. Konsep diri positif cukup luas untuk
menampung seluruh pengalaman seseorang, maka penilaian tentang dirinya sendiri
secara apa adanya. Hal ini tidak berarti bahwa dia tidak pernah kecewa terhadap
dirinya sendiri. Dengan menerima dirinya sendiri, dia juga dapat menerima orang
lain. Orang dengan konsep diri positif akan mempunyai harapan dan merancang
tujuan-tujuan yang sesuai dengan dirinya dan realistis. Artinya memiliki
kemungkinan besar untuk dapat mencapai tujuan tersebut. Ciri-ciri orang yang
memiliki konsep diri positif adalah:
§ Dapat menerima dan mengenal dirinya dengan baik
§ Dapat menyimpan informasi tentang dirinya sendiri
baik itu informasi yang positif maupun yang negatif. Jadi mereka dapat memahami
dan menerima fakta yang bermacamacam tentang dirinya.
§ Dapat menyerap pengalaman masalahnya.
§ Apabila mereka memiliki pengharapan selalu merancang
tujuan-tujuan yang sesuai dan realistis.
§ Selalu memiliki ide yang diberikannya pada
kehidupannya dan bagaimana seharusnya dirinya mendekati dunia.
Individu meyadari bahwa tiap orang memiliki
perasaan, keingimana dan perilaku yang tidak seharusnya disetujui oleh
masyarakat (James F Calhoun, 1995: 72-74
Selayaknya calon guru BK, dalam kaitannya dengan pemahaman karier maka bisa diberikan layanan informasi secara klasikal di kelas terkait konsep diri. Dan dari sini diharapkan peserta didik bisa mengetahui kelemahan dan kelebihan dirinya sendiri. Silahkan download disini (RPL BK)





0 komentar:
Posting Komentar
Tuliskan komentar Anda dengan bahasa yang sopan (!)